Profil

KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA
WILAYAH JAWA TIMUR
RESORT MADIUN

tribrataPROFIL KEPOLISIAN RESORT MADIUN

mako1

Sejarah

Bahwa dari profil Polres Madiun ini dimulai pada periode pendirian bangunan Polres Madiun tahun 1973 di atas lahan seluas 2.789,9 M dengan lokasi berada di Jalan Soekarna Hatta nomor 66 Madiun yang merupakan bangunan permanen yang berada di kawasan kota Madiun.

Sejarah Polres Madiun sebelum berada di jalan Soekarno Hatta Nomor 66 Madiun, Polres Madiun terletak di areal perumahan PG. Redjo Agung Madiun yang berada di Jalan Yos. Sudarso kota Madiun. Pejabat Polres Madiun pada saat itu dijabat oleh Mayor Pol. Paimo Prawirokusumo. Pada tahun 1972 PG. Redjo Agung menghendaki adanya pemekaran areal perumahan di kawasan pabrik PG. Redjo Agung. Karena di areal tersebut masih berdiri bangunan Polres Madiun, maka pihak PG. Redjo Agung melakukan relokasi bangunan Polres Madiun.

Atas prakarsa Kapolres Madiun Mayor Pol. Paimo Prawirokusumo dan pimpinan PG. Redjo Agung, maka disepakati adanya relokasi bangunan Polres Madiun. Setelah adanya kesepakatan tersebut, maka pihak PG. Redjo Agung bersedia membangun Polres Madiun di areal tanah peninggalan Belanda yang terletak di Jalan Ponorogo Madiun yang sekarang menjadi Jalan Sukarno Hatta Nomor 66 Madiun.

Pada tahun 1973 dimulai pembangunan Polres Madiun. Pembangunan dikerjakan selama kuranglebih delapan bulan yang dikerjakan oleh CV. Firmatunas ( sekarang CV. Nusa indah). Pembangunan Polres Madiun berjalan lancar tanpa ada kendala. Jumlah bangunan Polres Madiun terdiri dari bangunan utama kantor Polres Madiun, bangunan dinas Kapolres dan bangunan asrama Polres Madiun. Bangunan PolresMadiun diresmikan pada tahun 1974 oleh Kapolda Jatim yang pada saat itu dijabat oleh Brigjen Sutadi Rono Dipuro. Pengugunaan operasional Polres Madiun dilaksanakan pada tahun 1975. Sejak diresmikan hingga saat ini Polres Madiun telah mengalami banyak perubahan dari segi tata ruang dan penambahan bangunan pendukung operasional Polres Madiun.

Mulai bulan Januari 2013 wilayah hukum Polres Madiun yang sebelumnya terdiri dari 15 Kecamatan menjadi 13 Kecamatan, dikarenakan adanya pengalihan 2 kecamayan / Polsek menjadi wilayah hukum Polres Madiun Kota yaitu Kec. Jiwan dan Kec. Sawahan.

Bidang Geografi

Luas daerah Kab. Madiun 1.010,86 Km² persegi yang  terdiri dari :

(1)   13  ( lima belas ) wilayah Kecamatan

(2)   171  Desa

(3)    8  Kelurahan

(4)    634  Dusun

(5)    911  Rukun Warga

(6)    4208  Rukun Tetangga

Batas wilayah

Terdapat Gunung pada wilayah perbatasan diantara gunung Pandan dan gunung Wilis. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Bojonegoro di utara, Kabupaten Nganjuk di timur, Kabupaten Ponorogo di selatan, serta Kota Madiun, Kabupaten Magetan, dan Kabupaten Ngawi di barat.

Sebelah utara (Kec. Saradan dan Kec. Pilangkenceng) berbatasan dengan Kab.

Sebelah Timur ( Kec. Saradan, Kec. Gemarang dan Kec. Kare) berbatasan dengan Kab. Nganjuk

Sebelah Selatan ( Kec. Dolopo dan Kec. Kebonsari) berbatasan dengan Kab. Ponorogo

Sebelah Barat (Kec. Kebonsari) berbatasan dengan Kab. Magetan.

Sebelah Barat (Kec. Pilangkenceng ) berbatasan dengan Kab. Ngawi

 

Letak/Peta :

Kab. Madiun terletak di sekitar 7°12’-7°48’38” Lintang Selatan dan 111°25’45”-111°51” Bujur Timur, sebelah barat berbatasan dengan Kab. Magetan dan ngawi, sebelah timur berbatasan dengan kab. Nganjuk dan Kediri, sebelah utara berbatasan dengan Kab. Bojonegoro dan sebelah selatan berbatasan dengan Kab. Ponorogo. Ibukota Kabupaten Madiun  adalah Kecamatan Mejayan sesuai dengan Peraturan Pemerintah No.52 Tahun 2010. Sebagian gedung-gedung pemerintahan sudah berada di wilayah Caruban yang merupakan bagian dari Kecamatan Mejayan. Gedung lainnya akan dipindah secara bertahap dari Kota Madiun mulai tahun 2013.

peta

4. Situasi Kesatuan

Situasi kesatuan Polres Madiun yang terdiri dari 13 Polsek, 1 Pospol, 6 Pos lalu lintas dan kekuatan  personel Polres Madiun berjumlah 1.029 orang personel, dengan rincian sebagai berikut :

1.    Pamen berjumlah 6 orang.
2.    Pama berjumlah 87 orang.
3.    Bintara berjumlah 896 orang.
4.    PNS Polri berjumlah 40 orang.

5. KEJUANGAN POLRES MADIUN

Polres Madiun mempunyai sejarah yang tidak terpisahkan dalam berkembangannya hingga seperti sekarang. Sebagai Bhayangkara yang mengawal negara kesatuan Republik Indonesia ( NKRI ), personel Polres Madiun pernah berjuang dalam mempertahankan kedaulatan bangsa, tepatnya di desa kandangan kecamatan Kare, Kabupaten Madiun.

a.    Peristiwa Kejuangan.

Pada tanggal 1 Maret 1945 pukul 08.00 WIB datang serbuan pasukan Belanda dari 2 jurusan, yang pertama dari arah Giringan yang menelusuri sungai Catur, sedangkan yang kedua dari arah jalan besar lengkap dengan mobil lapis baja dan senjata Panser, seolah-olah daerah Kandangan dikepung dari segala penjuru, namun demikian pasukan Mobrig (Mobile Brigade ) beserta rakyat Kandangan yang pada waktu itu dibawah komando Kombes Moh. Jasin tidak gentar menghadapi kedatangan  pasukan Belanda dari arah Gilingan diketahui oleh seorang kurir dan dilaporkan kepada Mayor Wirato dan sekaligus Mayor Wirato mengkomandokan agar semua pasukan Mobrig yang ada beserta masyarakat Kandangan siap mengadakan perlawanan. Disinilah kita bisa melihat ketaatan dan kegagahan dan keberanian  dari Agen polisi Satu Sakip dalam melawan serbuan pasukan Belanda yang datang dengan keberaniannya Agen Polisi Sakip memberanikan diri untuk menghancur leburkan pasukan Belanda yang pada waktu itu sudah berada di daerah Catur, namun Agen Polisi Satu Sakip gugur tertembak  di kebun Prigi Batu yang merupakan batas daerah Catur.

Belanda terus melanjutkan serbuan ke daerah Kandangan. Disinilah pasukan Belanda dapat mengetahui komandan Muda Senali yang jauh sebelumnya sudah kena tembakan pada kakinya, sehingga tidak bisa berjalan cepat dengan bersembunyi di dalam glungan tikar di kolong tempat tidur rumah Bok setro, yang akhirnya diberondong tembakan oleh Belanda. Peristiwa ini terjadi pada pukul 10.00 WIB telah gugur pejuang dalam menunaikan tugas sucinya. Belanda terus menuju Banaran dan menangkap seorang anggota Polisi bernama Bapak Surumi serta membawanya ke markas Belanda. Karena takut adanya serangan balasan, Belanda meninggalkan daerah Kandangan. Masyarakat Kandangan yang dipimpin oleh Mobrig Bapak Urip dan Rahmat dengan rasa haru mengevakuasi kedua jenazah untuk dikebumikan

b.    Monumen.

Sebagai bentuk penghargaan kepada Pejuang Bhayangkara yang telah gugur, didirikanlah Monumen perjuangan yang terletak di desa Kandangan, Kecamatan Kare, Kabupaten Madiun untuk mengenang peristiwa 01 Maret 1949 dan diresmikan pada tanggal 02 Juli 1977 oleh Bupati Madiun Slamet Hardjo Utomo.

gghgggggghggh

MONUMEN KEJUANGAN KANDANGAN , TERLETAK DI DESA KANDANGAN, KEC. KARE, KAB. MADIUN